BlogiVan

Found Solutions & Inspirations With Me

Anak Kerang

Posted by Ivan pada 10 Februari 2009


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada
ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan
pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.
Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.”
“Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan
rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah
perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan
lembut.


Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit
bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat
ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi! tanpa
disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama
makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya
semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan
berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi
mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai
hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang
cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan
adalah lorong transdensial untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang
luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan
dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transdensial tersebut, karena
mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan
sebenarnya yang bisa mereka masuki : menjadi ´kerang biasa´ yang disantap
orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara´. Sayangnya, lebih
banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan
bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa
saja´.

So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan,
patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kamu..cobalah utk tetap
tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam
hatimu.. “Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan
mengubah diriku menjadi mutiara2…”

Satu Tanggapan to “Anak Kerang”

  1. susana said

    hmmm, keren tuh inspiratif banget
    ak ga bza ksh bnyk comment pi bagus,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: